Jumat, April 15

Raindrops


Hujan.
Sekarang hujan.

Selalu saja bisa bikin aku tenang.
Selalu bisa membawa aku ke berbagai macam kenangan.

"aku selalu bahagia saat hujan turun
Karna aku dapat mengenalmu untukku sendiri..
"



Waktu kecil dulu,
kalau hujan aku suka duduk di jendela, liatin tetesan hujan di kubangan air.

tes..... muncul lingkaran lingkaran di air yang makin membesar ke perifer.
Rasanya asyik sekali.

Pernah dulu waktu masih tinggal di desa, hujan besar sekali.
Umurku waktu itu baru lima tahun. Petir menggelegar. Aku ketakutan dan memeluk bapak dan ibuku erat-erat. Hujan tak henti-henti, dan karena desa kami dekat sungai besar, banjir pun datang. Alhamdulillah karena rumahku posisi dan pondasinya tinggi, air tidak sampai masuk ke dalam rumah, tetapi di luar rumah, banjir bisa mencapai sepaha.
Dasar anak kecil, banjir bukannya sedih, tapi teman-teman sepermainanku disana malah mencari batang pohon pisang untuk dinaiki. Lucu skali :)
Aku suka melihatnya dan ingin mencoba, tapi ibu dan bapakku sangat melarang keras. :(

Setelah punya adik,
aku pun masih suka mengamati hujan, bersama kedua adikku.
Biasanya kami menyanyi bersama diiringi benturan-benturan air hujan yang jatuh ke bumi.
Lagu favorit kami..

Hujan rintik rintik, turun tak berhenti
Di jalanan di halaman payung warna warni
Seperti Jamur yang tumbuh subur
Disirami hujan rintik rintik

Pernah juga suatu ketika, saking cintanya aku sama hujan,
Tahun pertama di Jogja, hujan pertama di Jogja yang aku temui,
aku keluar dari kamar kos, mengambil payung, memakai sandal jepit,
Aku menyusuri tangga kos, berjalan keluar, bahagia sekali rasanya
Aku berjalan memutar sepanjang Ishiro- Jakal- Selokan -Swakarya- dan kembali lagi ke Ishiro. Ah, pengen lagi.

Setiap kali aku bermain hujan, aku merasa jadi anak kecil lagi.
Hilang semua beban. Larut dalam tetesnya.

"Hujan, hujan. Dimana mana..
Di jalan di halaman air tergenang..
Hujan, hujan, tak henti henti..
Hujan, hujan basah sekali.."

Dulu kalau di tempat mbah hujan turun, aku menyobek kertas buku yang biasa mbah pakai untuk menulis agenda,
Lalu aku lipat-lipat, Syuuut jadilah kapal!
Lalu aku berlari ke teras, dan mencari genangan air dekat talang air. Aku labuhkan kapalku di sana :D

"Tik tik tik.. bunyi hujan tak henti henti.
Airnya turun tidak terkira..
Cobalah tengok, dahan dan ranting
Pohon di kebun basah semua.."



Beranjak dewasa, hujan pun membawaku bukan sekedar pada kepuasan atas turunnya hujan itu sendiri.

Kata mbak sari, saat hujan itu waktu yang ijabah untuk berdoa.
“Doa tidak tertolak pada 2 waktu, yaitu ketika adzan berkumandang dan ketika hujan turun” (HR Al Hakim, 2534, dishahihkan Al Albani di Shahih Al Jami’, 3078).

Dan mulailah sejak tau itu, aku membiasakan diri berdoa saat hujan turun.

Ya Allah, terimakasih atas segala nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku, Turunkanlah selalu rizkiMu melalui tiap tetes air hujan yang engkau turunkan ini, Turunkanlah selalu kebahagiaan untukku dan kedua orangtuaku, Dekatkanlah aku dengan yang Engkau takdirkan untukku seperti dekatku dengan hujan ini, Dekatkan kami dalam rasa syukur terhadap hujan yang Kau beri, Kabulkanlah doaku Allah-ku yang Maha Mendengar. AMIN

0 comments: